Showing posts with label Catatan Harian Affiq dan Athifah. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian Affiq dan Athifah. Show all posts

Saturday, December 15, 2007

Saat Indah Berbagi Kasih Dengan Si Buah Hati

Seperti biasa, tidak ada puasnya saya ciumi Athifah. Bau khasnya di saat belum mandi seperti ini … mmm nikmat sekali merasuki penciuman saya. “Mandi, Nak” kata saya. Ia menatap saya seraya memegang celananya, “Pipis” katanya. Athifah sangat menikmati acara mandinya. Usai mandi dan berpakaian, kembali saya memuaskan indera penciuman saya … mmm … tak kalah nikmatnya dengan bau yang tadi hanya bedanya kali ini bau khasnya telah berbaur dengan wangi minyak telon dan aroma sweet floral dari cologne gel salah satu produk. “Nenen, Nak”, ajak saya. “Nenen”, ulangnya dengan mata berbinar.

Seperti biasa, kami menikmati prosesi menyusui ini. Saya baringkan ia, menyodorkan puting ke arahnya, dan ia menyambutnya dengan lahap. Bibir saya pun mengalunkan syahadat, salawat, al-Fatihah, dan ayat kursi, ‘kidung resmi’ saya sejak pertama kali menyusuinya.

Tidak terasa usianya sudah setahun. Masih jelas dalam ingatan saya saat pertama Athifah menyusu dengan lahap, beberapa menit setelah kelahirannya. Athifah membuktikan pernyataan yang pernah saya baca bahwa bayi yang baru lahir jika tidak lebih dari sejam sejak kelahirannya disusui maka refleks mengisap yang sudah terjadi sejak masih dalam kandungan akan dengan cepat ia lakukan sehingga ia bisa menyusu dengan baik. Saat itu setelah menolak tawaran susu formula dari bidan - masih dalam ruang bersalin, beberapa saat setelah kelahirannya ia sudah mampu menyusu dengan lahap, begitu pun sampai beberapa hari setelahnya hingga tiba saatnya kami pulang ke rumah.

Siang hari, Affiq si sulung berusia 6 tahun pulang sekolah. Athifah dibangunkan oleh lengking suara kakaknya yang melongok ke dalam kamar. “Tata”, katanya dengan ekspresi ceria.

Lomba Minum Susu

Melihat ‘kecepatan’ Affiq minum susu selama ini, saya jadi punya niat mengikutkannya lomba minum susu. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Suatu sore saat saya dan suami berbelanja di pasar swalayan dalam sebuah plaza yang baru buka, kami melihat pengumuman lomba minum susu dengan syarat-syarat yang sangat mudah: hanya perlu menyertakan bukti berupa struk belanja di pasar swalayan tersebut dan tanpa dipungut biaya apapun kami sudah berhak memperoleh satu nomor peserta. Semua peserta lomba malah dijanjikan mendapatkan hadiah dari beberapa sponsor, dengan sponsor utama salah satu produk susu anak-anak terkenal.

Esok harinya kami bertiga berboncengan naik motor ke plaza itu. Tidak disangka ternyata jumlah peserta lomba hampir mencapai bilangan 500 anak yang kesemuanya dibagi dalam 2 kelompok usia: A(4–6 tahun) dan B(7–10 tahun). Affiq masuk dalam kelompok A dan ia mendapatkan nomor dada 33. Panitia terlihat berusaha menyelenggarakan lomba sebaik mungkin. Sayangnya karena pekerjaan mereka tidak terkoordinasi dengan baik, durasi waktu lomba berlangsung sangat panjang karena semua teknis acara berlangsung ‘seri’, padahal sebenarnya banyak kegiatan yang bisa dilaksanakan secara ‘paralel’ dengan pembagian tugas yang baik.

Cukup lama juga menunggu giliran Affiq. Saya berusaha menjaga perasaannya, jangan sampai ia bosan dan merajuk. Saya berusaha mengkomunikasikan aturan lomba padanya sebaik mungkin. Beberapa ibu belum apa-apa sudah sedemikian menekan anak-anak mereka. Seolah-olah ini olimpiade sains internasional. Atrium mungil berisi beberapa peralatan dan mesin permainan anak di lantai dasar plaza terasa pengap, sesak oleh ratusan orang. Ada peserta yang bahkan diantar oleh ibu dan 4 saudaranya!

Di babak penyisihan pertama Affiq berlomba dengan 9 anak lain. Ia berhasil menghabiskan 3 cup mungil susu dengan baik. Walaupun bukan ia yang tercepat, namun karena ia minum tanpa meninggalkan ceceran noda di atas meja, ia berhasil memenangkan tahapan itu. Senyum bangganya terkulum saat saya memujinya. Di babak penyisihan kedua, Affiq mulai terlihat jenuh. Hiruk-pikuk seliweran orang membuat saya lupa mengulangi penjelasan detil aturan lomba pada Affiq. Affiq mulai gugup memperhatikan 2 cup di depannya yang digeser ke sana ke mari oleh panitia saat mengatur meja. Cup pertama ia minum dengan hati-hati namun ia bingung dan makin gugup saat hendak memegang cup ke-2 apalagi saat teriakan instruksi terdengar dari mana-mana. Alhasil ia kalah. Dan tangisnya pun pecah seolah memecah beban pikirannya. “Saya tidak mau kalah!”, teriaknya beberapa kali. Kami menenangkannya di luar plaza. Kami tunjukkan walau kalah kami tetap sayang padanya. Akhirnya senyum cerianya tampak saat menyantap ayam goreng kegemarannya di restoran di sudut plaza.

Saya percaya Affiq belajar banyak hari itu, bahwa walaupun ambisi diperlukan namun sportifitas harus diutamakan dan di atas segalanya, kami tetap menyayanginya tanpa peduli ia menang atau kalah.

Sunday, February 18, 2007

Saat Superioitas Diekspresikan dengan Tepat

Saat ini anak saya, Affiq (4 tahun) tengah minum 2 jenis susu yang dicampur, yaitu susu coklat dan rasanya manis sekali dan untuk mengimbanginya supaya tidak terlalu manis, saya mencampurnya dengan susu instan merk lain yang kurang terasa manisnya. Susu coklatnya masih ada, yang harus dibeli kali ini adalah susu putihnya. Maka pada suatu hari, sepulang Affiq dari sekolah, saya dan suami mengajaknya ke toko grosir sebelum pulang ke rumah.

Thank God, sejak bersekolah di tahun ajaran ini, Affiq lebih ceriwis dan lebih komunikatif. Kalau dibawa ke mana-mana ia sering mengatur apa yang harus kami lakukan dan yang tidak boleh kami lakukan. Kalau ke toko ia sering mengatur apa yang harus kami beli, dan apa yang tidak boleh kami beli karena harganya yang “mahal”. Begitu pula kali ini, saat melihat susu putih kemasan 1 kg yang saya pilih, Affiq mulai bertingkah. Dengan super ngotot, ia berkata tidak menginginkan susu itu. Ia malah melirik merk susu lain, untuk usia 6 tahun ke atas sambil berkata bahwa susu putih itu “mahal”. Dengan tenang, saya dan papanya berusaha membujuknya dengan berbagai penjelasan yang masuk akal. Di wajahnya muncul mimik keras, ia tetap berkeras tidak mau susu itu.

Akhirnya saya dan suami capek membujuknya. Syukur, amarah tidak berhasil menghampiri kami, Affiq lalu kami tinggalkan di rak susu. Saya kemudian berjingkat-jingkat, bersembunyi pada jarak 5 meter darinya dan papanya menghilang sejauh 10 meter. Saya memperhatikan tindak-tanduknya, ia duduk diam-diam di rak paling bawah, tidak melakukan apa-apa. Sesekali matanya melihat-lihat berbagai macam merk susu di sekitarnya. Menit demi menit saya amati, ia belum juga mencari kami ! Sekitar 10 menit kemudian ia mulai celingak-celinguk. Akhirnya ia berdiri dan berjalan, menyeberang menuju rak di depannya. Ia kemudian menelusuri muatan rak itu dengan tatapannya. Pelan-pelan saya mendekati rak itu. Lalu saya mengintipnya. Mendengar suara langkah kaki, ia menoleh dan melihat saya, kami berdua bertatapan dan seketika itu juga saling melempar senyum. Tidak lama suami saya mendekati kami. Kami bertiga saling menatap dengan senyum. Suami saya lalu mengajak Affiq mengitari sejenak sekitar situ sementara saya menunggu di troley. Affiq menurut dengan ikhlas. Selanjutnya kami bertiga menuju kasir. Suami saya berucap, “Affiq tadi sedang mengetes Kita!”. Saya mengiyakan.

**********************

Beberapa minggu sebelum kejadian itu, di sebuah toko swalayan, Affiq ‘mengetes’ kami dengan kengototannya terhadap salah satu merk jelly yang berusaha kami hindari karena tidak mencantumkan label ‘HALAL’ pada kemasannya. Produk itu mengandung ‘EMULSIFIER’ tetapi tidak mendefinisikan dari mana emulsifier itu berasal. Kami ragu membelinya karena ternyata banyak produk yang menggunakan emulsifier yang berbahan dasar hewan yang diharamkan dalam Islam untuk dikonsumsi. Dan kelihatannya produk itu salah satu di antaranya. Segala bujuk rayu ditampik oleh Affiq, ia tetap berada di depan rak yang memajang produk itu dengan mimik ngotot sembari merengek halus. Hendak ditukar dengan apapun, ia menolak ¡

Akhirnya saya menyerah, saya mencoba menenangkan diri dengan melihat-lihat isi swalayan itu sambil berharap semoga suami saya berhasil membujuknya. Lima menit kemudian, suami saya dan Affiq menghampiri saya. Di bibir mereka berdua tersungging senyum tipis. Di dalam keranjang belanjaan di tangan suami saya terdapat sebungkus jelly berlabel ‘HALAL’ yang sedari tadi ditawarkan kepada Affiq tetapi sempat ditampiknya. Dengan heran saya bertanya pada suami saya, bagaimana caranya ia membujuk buah hati kami. Suami saya menjawab bahwa penjelasannya simpel saja, ia hanya mencoba menjelaskan bahwa sebagai muslim, kami harus memilih produk yang ada tanda ‘HALAL’-nya. Affiq yang sedang belajar mengeja lalu diajak oleh papanya untuk membaca tulisan ‘HALAL’ sekaligus mengenali huruf Arab-nya. Alhamdulillah, ia mau mengerti penjelasan papanya dan mau menerima merk lain sebagai pengganti.
**********************


Sebenarnya tidak sulit menghadapi Affiq. Kalau menghadapinya dengan sabar, pada akhirnya ia menurut. Tindakan nyebelin-nya seringkali hanyalah untuk mengetes reaksi kami atau untuk menyampaikan sesuatu dan jika tindakan-tindakan itu ditanggapi dengan kurang sabar atau kurang tepat, hasilnya pasti tidak bagus dan dengan sendirinya kami-orangtuanya biasanya merasakan penyesalan karena telah bertindak kurang bijak. Sementara pada hati buah hati kami, kemungkinan besar telah tertoreh luka yang entah kapan sembuhnya.

Betapa bahagianya jika rasa superior sebagai orangtua terekspresikan dengan tepat. Puas, dan bersyukur karena telah memperlakukan amanah-NYA dengan bijak. Dan yang pasti, happy ending juga bagi Affiq. Dia akhirnya tahu bahwa orangtuanya bisa juga memperlakukannya dengan bijak, meskipun tidak selalu. Iya, memang tidak selalu, kekhilafan sering terjadi atas nama arogansi yang terselubung superioritas. Tetapi kami selalu berusaha untuk memperlakukannya dengan bijak dan introspeksi diri bilamana arogansi itu muncul atas nama superioritas ..........

Makassar, 2005

Saturday, February 17, 2007

Affiq Berlebaran !!!

Lebaran tahun 2005 ini kami lalui di kota tempat tinggal ibu mertua saya, di Pare Pare, kota pantai berjarak 155 km sebelah utara Makassar. Affiq sangat senang di sini karena ia melihat banyak hal baru.

Kamis, 3 November 2005

Lebaran nih ...
Pagi ini Affiq susah sekali dibangunkan. Sekalinya bangun dia tiba-tiba mogok mandi dan marah-marah terus. Tidak jelas masalahnya apa. Mungkin badannya terasa capek. Memang dia kadang-kadang begitu kalau capek. Saat tetangga yang sedianya mau ditumpangi ke lapangan UMPAR (Universitas Muhammadiyah Pare Pare) memanggil, kami – terutama Affiq belum siap. Nenek mengira Affiq bisa dibawa dalam kondisi seperti itu, tidak perlu dimandikan dan diganti bajunya. Saya bilang tidak bisa, bukan masalah dia ganti baju atau tidak, kalau dalam keadaan marah-marah seperti ini ia dibawa secara paksa, bisa-bisa dia merepotkan di jalan, kalau Affiq mengamuk bakal merepotkan sekali. Saya minta Nenek dan Tante Leha berangkat saja duluan biar kami ke masjid dekat rumah saja. Nenek tidak mau, Nenek masih berharap kami bisa semuanya bersama-sama berangkat ke lapangan Andi Makkasau.

Setelah menunggu cukup lama sementara Affiq belum mempan dibujuk rayu untuk mandi dan mengganti baju, Nenek dan Tante Leha pun naik becak ke lapangan Andi Makkasau.

Akhirnya Affiq mau juga ke kamar mandi. Seperti biasa, upacara kamar mandi berlangsung cukup lama sehingga membuat saya dan Papa mulai tidak sabar. Affiq memang paling senang main di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, masih ada upacara lain: mengeringkan badan dengan handuk. Anak lelaki kecil ini maunya dia sendiri yang mengeringkan badannya dengan waktu yang tidak singkat.

Akhirnya rangkaian upacara melelahkan pagi ini berakhir juga dengan sukses: Affiq ikut shalat Id ke masjid dekat rumah dengan mengenakan baju koko baru lengkap dengan songkoknya dari Nenek, dan sajadah baru berwarna hijau dari Tante Leha dan berbekal ransel hijau birunya yang diisi susu cair dan beberapa makanan kecil. Untung saja shalat belum dimulai. Papa dan Affiq adalah orang terakhir yang tiba di shaf lelaki sementara saya menjadi orang dengan nomor urut kedua dari terakhir yang tiba di bagian jamaah perempuan. Menguntungkan bagi saya karena saya yang sedang berhalangan shalat bisa mendapatkan tempat yang tidak mungkin ditempati shalat yaitu persis di ujung tangga di lantai atas masjid. Bagi beberapa orang, saya terlihat aneh karena ternyata hanya saya satu-satunya perempuan dewasa yang hadir di tempat itu tetapi tidak shalat. Seorang ibu sampai merasa perlu menanyakan apakah saya sedang haid.

Sulit juga menyimak apa yang dikatakan khatib karena sound system masjid tersebut tidak bagus. Belum lama khatib berkhutbah, beberapa perempuan di baris belakang meninggalkan tempat shalat. Kelakuan mereka diikuti oleh yang lain, akhirnya saat khatib tiba di kata-kata penutup setengah jamaah perempuan sudah meninggalkan tempat shalat mereka. Saya yang duduk di ujung tangga, tidak berani masuk terlalu jauh ke dalam masjid karena sedang berhalangan jadi saya hanya bergeser sedikit ke arah dalam dan tetap duduk sementara di sekeliling saya dipadati oleh jamaah perempuan yang hendak keluar masjid. Saat sedang merasa setengah konyol berada dalam kondisi seperti itu – di antara ’pagar betis’, tiba-tiba mata saya menangkap sosok mungil balita laki-laki yang sedang mengenakan baju koko persis seperti yang dikenakan Aff ... eh ... tunggu dulu, ternyata itu Affiq. Ya ampun, bagaimana caranya ia bisa naik ke sini sementara tangga sedang padat-padatnya dengan jamaah perempuan yang bergerak ke luar masjid sementara ia dan Papa tadi shalat di lantai bawah ? Ya Allah, apa ia menerobos naik arus besar yang sedang bergerak turun ? Atau mungkin ada tangga lain di masjid ini ?

Affiq cengar-cengir saja saat saya serbu dengan beberapa pertanyaan. Akhirnya saya tahu bahwa ia ternyata menerobos naik ke lantai atas. Ia bingung saat menyadari saya tidak ada di dekat ia dan Papa. Dan kemudian mencoba mencari saya di lantai atas.

Pulang ke rumah, setelah salam-salaman sama Nenek dan Tante Leha, saya pinjam telepon untuk interlokal Oma dan Ato’ di Makassar. Hanya Oma dan Tante Mirna yang ada di rumah. Ato’ dan Om Uyi pergi bersama Om Pai dan Ifa ke rumahnya kak Nur-Jaya mengambil soto pesanan Oma. Affiq tidak mau bicara dengan Oma, katanya ia mau bicara dengan Ato’ saja.

Kami menelepon Om Pai untuk berbicara dengan Ato’. Dari HP Papa yang bernomor Matrix, ada tarif khusus (diskon) jika kami menghubungi HP Om Pai dan Tante Mirna karena sewaktu mendaftar Matrix kami boleh mengajukan nomor dengan tarif diskon yang sama-sama berada di bawah operator INDOSAT. Affiq juga ikut bicara dengan Ato’ dan Ifa. Akhirnya Affiq mau bicara dengan Oma dari HP Papa ke HP Tante Mirna. Syukurlah, Oma jadi terobati rasa kecewanya.

Jarum jam tengah menuju angka sebelas saat kami semua berangkat ke Pinrang. Nenek hendak mengunjungi keluarga di desa Malimpung. Affiq belum pernah ke sana. Kelihatannya ini saat yang tepat membawa Affiq ke kampung halaman Nenek itu. Ada tantenya Nenek, namanya Nenek Satto yang belum pernah sama sekali melihat Affiq, dan beliau sudah sangat tua. Kami mengambil pete-pete di Jl. La Halede menuju terminal Soreang lalu berhenti di daerah perbatasan dengan kabupaten Pinrang lalu ganti kendaraan. Papa, Affiq, dan saya turun untuk membeli minuman. Tadinya Affiq tidak hendak dibelikan minuman karena ia sudah dibekali dengan Fruit Tea kemasan kardus dan susu cair INDOMILK. Jadi Papa dan saya memilih Fruit Tea black currant 500 ml kemasan botol plastik. Tante Leha memilih Fanta. Terlihat Affiq ingin juga dibelikan minuman, saat ditanya ia memilih Fanta merah seperti pilihan tante Leha. Saya tidak membolehkannya, minuman bersoda itu akan membuat perutnya penuh – kembung, dan bisa membuatnya muntah sementara perjalanan ke Malimpung belum setengah jalan. Pare Pare – kota Pinrang berjarak 28 km, sementara Pinrang – desa Malimpung berjarak 14 km. Affiq mulai menunjukkan mimik keras kepalanya. Ia ngotot mau Fanta merah saat saya tawari susu cair. Untungnya ibu penjual membantu kami, ia berkata tidak menjual lagi. Beberapa menit kemudian baru Affiq melunak dan mau dibelikan susu cair Indomilk. Kami pun melanjutkan perjalanan ke pasar Paleteang yang sekaligus terminal di kota Pinrang.

Pasar yang biasanya ramai dengan penjual, pembeli, kendaraan umum termasuk ojek yang berseliweran kini sepi hanya ada beberapa becak yang tidak mungkin menempuh jarak 14 km naik-turun bukit ke Malimpung. 15 menit menunggu, ada 1 motor yang menghampiri kami, ternyata pengendaranya adalah adik dari om Jalal, suaminya pung Ampe. Untuk ke Malimpung kami membutuhkan 4 ojek. Akhirnya setelah menunggu sekitar 15 menit lagi, lengkaplah 4 motor ojek yang siap mengantar kami ke kampung halaman Nenek. Motor yang tadi menghampiri kami itu tidak jadi mengantar tetapi ia menemani kami menunggu.

Motor yang bergerak paling depan ditumpangi tante Leha. Saya di urutan kedua, lalu Papa bersama Affiq, dan terakhir Nenek. Beberapa kelurahan dan desa dilewati, ada yang bernama Madimeng, Paleteang, Sulili, Ambo Alle, ada pula sawah-sawah yang membentang, rumah-rumah panggung, dan pekuburan Cina. Saat melihat pekuburan Cina Affiq berkata: ”Papa, banyak rumah ...”. Dia mengira bangunan makam di atas bukit itu rumah-rumah kecil.

Perjalanan bermotor yang memakan waktu lebih dari 20 menit itu berakhir di depan rumah Pung Tati & Nenek Arafah. Di Malimpung, kami mengunjungi beberapa rumah keluarga Nenek. Rencananya pulang sore tetapi ternyata sulit mendapatkan ojek kembali ke kota Pinrang. Sekalinya ada tumpangan, sudah terlalu sore sehingga kemungkinan kecil sekali untuk mendapatkan kendaraan umum dari kota Pinrang balik ke Pare Pare.

Affiq senang sekali mendapatkan banyak hal baru di Malimpung. Rumah-rumah panggung, bale-bale di bawah rumah, ternak ayam dan bebek serta kucing-kucing peliharaan yang sangat jinak, dan juga anjing-anjing pemburu. Kucing-kucing itu tidak melawan dikerjai oleh Affiq. Saya yang gemas melihat Affiq. Diberi tahu kemungkinan kucing-kucing itu melawan, ia tidak peduli – ’Toh tidak demikian kenyataannya’, mungkin itu yang ada di pikirannya. Akhirnya ia sampai ke percobaan ke sekian dengan kucing-kucing itu. Satu per satu digiringnya ke bagian belakang rumah panggung lalu melemparkan mereka ke bawah. Jarak lemparan Affiq ada sekitar 3 meter! Kucing-kucing yang memiliki kepasrahan yang sedemikian besar itu tidak kapok, mereka kembali naik ke rumah. Alhasil, Affiq yang masih cekikikan senang, kembali mencengkram mereka untuk dilemparkan kembali ke bawah. Salah satu dari mereka hampir saja jadi santapan anjing yang mengira ada lemparan makanan untuknya!

Di setiap rumah yang dikunjungi, Affiq tidak pernah betah berlama-lama di dalam rumah. Ada saja kesibukannya: mengejar-ngejar bebek, ayam, atau kucing, naik-turun tangga, atau sekedar duduk-duduk di teras depan/tangga rumah sambil mengoceh tidak henti. Sesekali ia minta pipis atau BAB. Acara pipis dan BAB ini pun membuatnya excited karena kamar mandi di kampung tidak seperti kamar mandi di kota: kalau bukan pipis/BAB di bagian belakang rumah panggung (kamar mandi darurat: di sela-sela papan lantai rumah) maka tuan rumah menunjukkan kamar mandi di bawah-samping rumah panggung yang berdiri sendiri, terpisah, merupakan bangunan kecil dari kayu atau semi batu dengan model kloset/bak mandi yang belum pernah selama i ni dilihat oleh Affiq. Ia betah berlama-lama di kamar mandi, di samping hal-hal baru itu, ia memang doyan main air! Sering kali kesabaran saya hampir habis menghadapinya di kamar mandi karena kesulitan mengajaknya keluar !

Di Malimpung ternyata masih banyak sepupu Nenek yang tentu saja disebut ’Nenek’ juga saat dikenalkan kepada Affiq dan meminta Affiq menyalaminya. Setiap rumah pasti ada satu ’Nenek’, terkadang malah sampai lebih dari tiga. Satu, dua, tiga, sampai sekitar 5 ’Nenek’ masih mau disalaminya. Setelah itu ia membuang muka saat dikatakan padanya: ”Affiq, ini Nenek, salim Nak!”. Jangankan menyalami, melihat pun ia tidak mau! Saat ditanyakan padanya berapa banyak Nenek di Malimpung, ia menjawab ”Seratus”, di saat lain ia menjawab ”Seribu”, atau ”Satu juta”. Bagi Affiq, Malimpung adalah kampung ”Sejuta Nenek” ..... !
Malamnya, saya khawatir kalau-kalau Affiq tidak nyenyak tidurnya karena kecapaian dengan ’kesibukan’-nya dengan hal-hal baru di Malimpung. Ternyata tidak, alhamdulillah tidurnya nyenyak sekali, apalagi didukung dengan udara malam Malimpung yang dingin. Ia tidur enak, nyaris tidak bergerak sampai pagi. Malah saya yang kewalahan dengan tenggorokan yang sakit. Pharingitis saya kumat. Untungnya di warung sebelah menjual anti biotik, obat yang terpaksa saya konsumsi jika sakit di tenggorokan ini tak tertahankan.

Jumat 4 November 2005

Sekitar pukul 9 pagi, kami balik ke Pare pare naik pete-pete menuju kota Pinrang dengan bermacam oleh-oleh dari Nenek Arafah. Ada kelapa dan beras. Sampai di terminal kota Pinrang, kami mengganti pete-pete ke arah kota Pare Pare.

Ada pete-pete kosong. Karena masih harus menunggu sampai pete-pete penuh, kami memutuskan untuk menunggu di terminal, duduk di kursi tunggu yang ada di terminal lebih nyaman daripada duduk menunggu di dalam pete-pete. Tidak lama, pete-pete terisi, hampir penuh. Di perjalanan Affiq nangis keras. Dia protes karena harus dipangku sementara dia merasa mendapatkan pete-pete tersebut dalam keadaan kosong tadi dan ia mendapatkan tempat duduk tiba-tiba saat pete-pete berangkat ia harus dipangku dan pete-pete dalam keadaan penuh, berdesak-desakan. Tante Leha menyesalkan Papa yang tidak mengambilkan Affiq satu tempat duduk. Tetapi Papa dan saya sependapat, sekali-kali Affiq harus bisa berbagi, tidak selamanya apa yang ia inginkan terpenuhi, termasuk kali ini. Salah kami adalah, tidak memberitahu kepadanya terlebih dahulu apa saja kemungkinan yang terjadi sepanjang jalan menuju Pare Pare. Jika sudah diberitahu terlebih dahulu, biasanya Affiq lebih menerima keadaan yang terjadi. Misalnya, ia harus diberitahu bahwa pete-pete yang akan membawa kami ke Pare Pare mungkin saja penuh, dan jika kemungkinan pete-petenya penuh maka ia harus mau dipangku. Sampai di Pare Pare Affiq masih ’istiqamah’ ... menangis ....

Sabtu 5 November 2005

Hari ini ziarah kubur Bapak Tahir Parenta. Affiq diberitahu bahwa kakeknya kini terbaring di bawah kubur itu, di dalam tanah. Ternyata ia pernah bertanya pada Nenek sambil menunjuk ke foto kakek Tahir di ruang tamu, ke mana kakeknya, koq tidak pulang-pulang. Kami baru tahu setelah diceritakan oleh Nenek.

Kami berangkat ke Pangkajene Sidenreng dengan sambung-menyambung pete-pete. Ziarah ke rumah pung Cummi yang sedang mempersiapkan pesta pernikahan Supi.

Seperti saat di Malimpung, di Pangsid Affiq senang sekali. Ia tidak pernah berlama-lama diam di dalam rumah. Rumah pung Cummi seperti rumah tradisional Bugis lainnya, merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan di bawah rumah terdapat rumah semi batu yang didiami anak pertama pung Cummi beserta anak dan istrinya. Hal yang membuatnya agak lama duduk di dalam rumah adalah mesin tik yang dipakai mengetik label undangan pernikahan. Selain itu tidak ada, ia menyibukkan diri dengan keluar-masuk rumah (atas dan bawah), naik-turun tangga (di depan dan di belakang rumah), atau sekedar duduk-duduk sebentar di tangga/teras. Ia bahkan melakukan suatu hal: lari mengelilingi rumah bawah, kurang lebih 20 kali ! Saya stres menjaganya. Papa, Nenek, dan Tante Leha sempat istirahat, tidur siang. Saya tidak bisa. Sebentar-sebentar saya lari ke pintu depan berteriak memanggil nama Affiq beberapa saat kemudian saya lari ke pintu belakang untuk melakukan hal yang sama. Sesekali saya turun ke bawah untuk melihat apa yang sedang dilakukannya di saat ia berhenti berlari. Saya baru tenang setelah mendengar teriakannya mengiyakan saya dan mengetahui posisinya. Untungnya sumur berpagar rendah yang berdiameter sekitar 2 meter di belakang rumah tidak menjadi tujuan eksplorasinya. Ia hanya tertarik melempar timba ke dalam sumur di saat saya membersihkannya setelah pipis. (Hal itu juga bikin saya berteriak karena tali pada timba ukurannya pendek dan tidak disangkutkan pada suatu tempat sehingga jika dilempar ke dalam sumur ... terpaksa tuan rumah harus membuat timba baru sampai timba lama bisa diangkat kembali ke atas !!).

Kami pulang setelah makan selepas maghrib lalu menunggu pete-pete bersama seorang tantenya Papa beserta cucu beliau. Karena bertujuh, kami mencari mobil langsung ke Pare Pare, siapa tahu ada yang mau mengangkut kami. Sekian menit menunggu akhirnya ada mobil yang bersedia mengangkut kami, sepertinya jenis Kijang atau Panther. Mobil yang lumayan nyaman.

Yang saya tahu, mobil itu sudah sekitar 10 menit jalan ketika tiba-tiba berhenti dan sopirnya turun lalu masuk ke salah sebuah bangunan di seberang sana. Saya kemudian menyadari bahwa ternyata kami berhenti tepat di tempat kami naik tadi. Sang sopir kemudian muncul setelah lebih dari 5 menit bersama seorang laki-laki. Mereka mendekati mobil yang masih terdapat kami di dalamnya hanya untuk sebuah percakapan singkat yang akhirnya membuat kami semua terpaksa turun dari mobil dan mengulangi kembali ’proses menunggu’. Percakapan singkat itu, ringkasnya begini: ”Ke mana ?”, ”Ke Pare Pare, 6 orang” (ket: Affiq tidak dihitung karena ia dipangku saja), ”Tidak bisa”.

Hati saya berbisik (dan saya suarakan ke telinga Papa dan Tante Leha): ”Mohon maaf para penumpang, Anda terpaksa kami turunkan di tempat Anda naik tadi, untuk alasan yang tidak jelas” .... lalu tawa saya meledak, keras sampai perut saya terasa sakit dan mata saya berair sampai memancing Tante Leha tertawa dan Nenek serta Papa tersenyum. Menyebalkan (sedikit), tetapi lebih besar rasa lucunya bagi saya ... untuk apa coba, tadi ia membawa kami berkendara mobil sekitar 10 menit ? hanya untuk menghibur ??? .... J
What a great entertainer ......

Tapi itu dari satu sudut pandang saja, kini (dari sudut pandang lain) saya memahami ... pikirannya .... mungkin ... tadinya sopir itu memang mau mengangkut kami tetapi kemudian ia bimbang karena butuh waktu sekitar sejam untuk sampai di Pare Pare sementara trayek mobil itu mungkin seharusnya lebih jauh dari Pare Pare ... lalu kemudian ia berubah pikiran ... lalu mencoba mencari penggantinya untuk menyopiri kami ... lalu ..... kami pun diturunkan tanpa pesan dan permohonan maaf .....

Catatan:
Nenek : panggilan Affiq untuk ibu mertua saya
Oma: panggilan Affiq untuk ibu saya
Ato’: dari kata ”Lato’” (bahasa Bugis), panggilan Affiq untuk bapak saya
Nenek Arafah: nenek dari suami saya
Tante Leha: panggilan Affiq untuk adik perempuan suami saya
Tante Mirna: panggilan Affiq untuk adik perempuan saya
Om Uyi: panggilan Affiq untuk adik laki-laki saya
Om Pai: panggilan Affiq untuk suami adik saya
Ifa: anak dari Mirna & Pai
’Pung’: panggilan untuk orang yang lebih tua/dihormati dan masih ada keturunan bangsawan di daerah Bugis

Friday, February 16, 2007

Sekolahku

Affiq baru bersekolah di tahun ajaran 2005/2006 ini. Sejak sekolah tanggal 18 Juli 2005, Mama tidak pernah menunggui Affiq di sekolah. Sewaktu peresmian sekolah, sekolahku ramai sekali kedatangan teman-teman dan kakak-kakak dari TK sampai SMP, sehubungan Hari Anak Nasional. Bahkan ibu Apiaty, istri gubernur Sul Sel datang untuk meresmikan ! Affiq saat itu berani menyanyi dengan mic. Mama dan Papa yang tidak menyaksikan momen itu merasa senang sekali mendengarnya.

Tulisan singkat ini dimuat di majalah anak-anak “Junior” Edisi 152 tahun 2005. Walaupun setiap ke sekolah (di KB Melati binaan DWP UNM) Affiq diantar-jemput oleh saya dan Papanya namun ia sama sekali tidak pernah kami tunggui di sekolah.Ia pun sama sekali tidak pernah meregek atau meminta kami untuk menungguinya.
Selama tahun 2005 - 2006 Affiq sekolah dai KB Melati, kelas TK A. Setelah itu, pada tahun 2006 -2007 ia sekolah di TK Wildanun.