Showing posts with label Petikan. Show all posts
Showing posts with label Petikan. Show all posts

Saturday, February 17, 2007

Tentang Kesiapan Menjadi Orang Tua dan Kontribusi Ibu pada Ngara

Dari artikel: Tamu Kita: Elly Risman, Psi – “Jangan Sampai Anak Busung Jiwa dan Layu Jiwa”, majalah UMMI No. 3/XVII Juli 2005/ 1426 H, halaman 8 - 10.

Elly Risman mendirikan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) bersama Neno Warisman, Hidayat Achyar, dan Tomi Sutomo.Sering mengadakan seminar, workshop, pelatihan untuk orangtua (parenting) dan anak dengan melibatkan peserta, menyentuh, menyenangkan, dan praktis.

Berikut kutipan wawancara beliau dengan reporter dari majalah UMMI:
............ Anak-anak hidup sesuai zamannya, begitu kata orang bijak. Elly pun berpendapat anak sekarang ada sisi positif dan negatifnya. Mereka lebih cerdas, mampu mengutarakan pendapat dan lebih berani. Tapi mereka juga lebih manja, tidak mandiri, dan tidak berani mengambil keputusan, kurang agamis dan segi spiritualnya sering terabaikan. Hal ini akibat dari kurang terdidiknya orangtua dalam segi pengasuhan anak. Para orangtua saat masuk ke dunia perkawinan sama sekali belum siap menjadi orangtua. Elly menyesalkan banyak orangtua yang menganggap sepele masalah pengasuhan anak. Padahal tantangan zaman sekarang lebih berat karena kemajuan teknologi dan arus informasi tidak bisa dibendung.

......... Elly mencontohkan, ada penelitian sosiolog-sosiolog Islam terkemuka di Amerika. Hasilnya cukup mencengangkan, kata mereka sebaiknya negara harus membayar perempuan-perempuan yang tinggi sekolahnya tetapi dia memutuskan untuk menjadi ibu dan mendidik anaknya di rumah. Karena kontribusinya pada negara jauh lebih baik daripada uang yang disumbangkan dari pendapatan perusahaannya yang dikontribusikan untuk negara.

Keyakinan dalam Berdoa

Dari tulisan “Di Mana Doa Kita” dalam buku ‘LENTERA HATI’, oleh DR. M. Quraish Shihab, halaman 157 :

“Jangan salahkan Allah bila doa tak dikabulkan dan jangan pula menggerutu atau jemu”, demikian tulis Abdul Qadir Jailani (1078 – 1167 M), seorang sufi besar dalam bukunya Mafatih Al-Ghayb (Penyingkap Kegaiban). “Jika Anda memohon cahaya siang pada saat kian memekatnya kegelapan malam, maka penantian Anda akan lama, karena ketika itu kepekatan akan meningkat hingga tibanya fajar. Tetapi yakinlah bahwa fajar pasti menyingsing, baik Anda kehendaki atau tidak. Jika Anda menghendaki kembalinya malam pada saat itu, maka doa Anda tidak akan dikabulkan karena Anda meminta sesuatu yang tak layak, dan Anda akan dibiarkan meratap, lunglai, jemu, dan enggan. Tetapi Anda salah bila jemu berdoa, karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (QS. 94: 5-6). Itu terjemahan ayatnya. Adapun tafsirnya adalah ‘sesaat setelah datangnya satu kesulitan pasti disusul oleh dua kemudahan’, karena itu – tetaplah yakin – bahwa ‘dalam genggaman tangan-NYA terdapat segala kebajikan”.
Bila apa yang dimohonkan tak diperoleh dengan segera, Anda tak akan rugi. Karena, lanjut Abdul Qadir Jailani, Nabi pernah bersabda: “Pada hari kebangkitan ada yang terheran-heran melihat ganjaran perbuatan yang dia rasakan tak pernah dilakukannya. Ketika itu disampaikan kepadanya: ‘Inilah doa-doamu di dunia yang dulu tidak dikabulkan’ “. Karena itu, jangan jemu berdoa, juga jangan menggerutu, apalagi mengutuk!